Wednesday, September 20, 2006

Press Release, 20 September 2006

BUANG LUMPUR PICU KONFLIK HORISONTAL

Menolak membuang lumpur ke laut atau sungai bukan hanya sekedar memikirkan keselamatan ekosistem hewan dan tanaman saja. Justru hal ini terkait erat dengan mata rantai makanan yang kemudian akan berpengaruh pada keselamatan manusia. Opini yang dikembangkan saat ini bahwa pihak yang menolak membuang lumpur ke Kali Porong dan laut hanya sekedar memikirkan keselamatan ikan-ikan saja tanpa memikirkan keselamatan manusia...[lebih lanjut]

Monday, September 11, 2006

PERGERAKAN TNI SEIRING DENGAN PERGERAKAN LUMPUR

Sejak 28 Agustus 2006 Lapindo telah memasang pipa pembuangan lumpur ke Kali Porong dan dengan sengaja Lapindo membuang air lumpur berwarna merah tanpa treatment ke Kali Porong. Pembuangan air lumpur ini dilakukan di luberan lumpur terluar di Desa Pejarakan Kecamatan Jabon dengan menggunakan pipa karet kira-kira sepanjang 300 meter yang dipompa dengan diesel raksasa........[lebih lanjut]

Friday, September 08, 2006

Permintaan WALHI Jatim Untuk Upaya Government Standing

Kepada :

Yth. Gubernur Jawa Timur
Jalan Pahlawan 118
Surabaya

Dengan hormat,

Praktik pertambangan Illegal yang dilakukan PT. LAPINDO BRANTAS, INC di lokasi sumur Banjar Panji I di desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo....[lebih detail]

Tuesday, September 05, 2006

Press Release, 5 September 2006

WALHI JATIM TOLAK PEMBUANGAN LUMPUR LAPINDO

KE BADAN SUNGAI DAN LAUT

Dengan hanya menggunakan tiga parameter, yaitu parameter minyak, lemak, dan pH (tingkat keasaman), Lapindo menyatakan bahwa air lumpur layak dibuang ke laut.

Terlepas dari apakah tiap parameter memenuhi baku mutu atau tidak, yang perlu dicermati adalah berapa banyak kandungan kimia maupun fisik lumpur yang akan dibuang ke laut.

Dengan tidak memperhatikan baku mutu saja, apakah kandungan kimia lumpur akan dibuang ke laut begitu saja ? Apa jaminan jika kandungan kimia dalam lumpur tersebut tidak merusak dan mengganggu ekosistem sungai maupun laut?

Dari aspek fisik, lumpur Lapindo memiliki butiran yang sangat halus, yaitu sekitar 0,0039 milimeter atau tergolong larutan koloid, yaitu larutan yang sangat sulit dipisahkan antara air dan material padatan. Sehingga tidak mungkin dibuang begitu saja ke badan sungai maupun laut.

Dengan sifat lumpur yang demikian, patut dipertanyakan seberapa efektif rencana Lapindo melakukan Water Treatment Plant ? Mengapa Lapindo baru sekarang berniat melakukan treatment disaat volume lumpur sangat besar dan mendekati musim hujan? Bukankah treatment ini telah disuarakan berbagai ahli sejak pertengahan bulan Juni 2006.

Namun hal mendasar yang harus menjadi perhatian Lapindo adalah apakah Lapindo telah menyampaikan rencana pembuangan air lumpur, baik ke badan sungai ataupun ke laut, kepada masyarakat pesisir pantai, khususnya masyarakat pesisir di Sidoarjo, Pasuruan, Surabaya, dan Madura, yang catatannya mereka adalah warga Nahdliyin mayoritas bermata pencarian sebagai nelayan dan petambak, yang akan terkena dampak dari pembuangan lumpur ini. Apakah masyarakat juga telah tahu apa dampak dari pembuangan air lumpur ke badan sungai ataupun ke laut ? [lebih detail]


Friday, September 01, 2006

Press Release, 1 September 2006

WALHI JATIM PERTANYAKAN 11 RIBU TENTARA DI LOKASI BANJIR LUMPUR PANAS

11 ribu personel TNI-AD dengan persenjataan lengkap (M16) diterjunkan di lokasi semburan lumpur panas Porong Sidoarjo.

Sebenarnya apa misi dan tugas para tentara ini ? Atas permintaan siapa mereka bertugas ? Dan mengapa harus diturunkan tentara sebanyak itu apalagi dengan persenjataan lengkap ?

Jika menilik beberapa industri pertambangan besar di wilayah-wilayah lain di Indonesia, industri pertambangan memang cenderung melakukan pengerahan tentara. Hal ini disebabkan karena (1) usaha pertambangan selalu berhubungan dengan pengerukan kekayaan alam yang sangat besar dan cenderung bergesekan dengan hak-hak rakyat atas sumber kekayaan di wilayah yang dikeruk, sehingga dibutuhkan (2) pengamanan modal yang telah diinvestasikan.
Terkait dengan diterjunkannya 11 ribu personel tentara ini, Pangdam V Brawijaya harus menjelaskan kepada rakyat, untuk apa tentara ini diterjunkan.

[lebih detail]